Bab 8 PEMBURU
Sepagi itu, jam 6:45 WIB. Cika sudah menjadi salah satu orang pemburu waktu di jantung Kota Jakarta. Karena diprediksinya, hari senin akan lebih macet dari biasanya. Sedangkan dia harus sampai ke kantor penerbit lebih cepat pada hari tersebut. Namun, keadaan Kota metropolitan ini benar-benar menyesakkan napas. Untuk orang-orang yang memiliki prinsip on time seperti Cika, perempuan kelahiran Manado ini sangat on time dalam bekerja. Kedisplinan waktu baginya, merupakan anak tangga pertama yang harus diinjak oleh orang-orang yang berharap sukses dalam karirnya.
Selepas tamat SMA. Perempuan berdarah Manado tersebut hanya ingin kuliah. Agar bisa mengangkat derajat kelas status sosialnya yang lebih baik. Di awal-awal berada di kota Jakarta tersebut. Tidak lantas membuatnya hanya menunggu kiriman orang tuanya, yang hanya petani biasa. Lima belas hari, setelah diterima di kampus swasta tersebut. Dia bekerja paruh waktu disebuah rumah makan sebagai tukang cuci. Tidak begitu besar, hanya menerima lima ribu per jam kerjanya.
Rumah makan yang menerima Cika bekerja sangat jauh dari tempat tinggalnya. Dia kadang-kadang sampai rumah sudah menjelang tengah malam. Pada suatu malam, Kota Jakarta dilanda hujan yang sangat deras. Dia sudah berjam-jam menunggu angkot. Berkali-kali dia melirik arlojinya yang sudah menuju angka satu. Tiba-tiba beberapa laki-laki brandal mendekatinya. Dia mencoba berlari di bawah hujan menyiram deras jalanan. Hingga hampir ditabrak oleh sebuah mobil pribadi.
Pemilik mobil langsung keluar, memastikan dia tidak apa-apa.
“Kamu nggak apa-apa Dik?” tanya Perempuan bertubuh semapai itu.
“Nggak apa-apa Bu!” Cika segera mengambil ranselnya yang sudah basah kuyup.
“Mau kemana? Kami antar ya dik!” tawar perempuan itu lagi.
Cika tidak ada waktu lagi berpikir karena. Dari jauh dia melihat kedua orang jahat tadi muncul dari ujung jalan. Segera mengangguk cepat.
“Cika dari mana malam-malam begini?” tanya Mariah. Setelah mereka saling berkenalan.
“Saya kerja Bu, di Cafe Plamboyan!” jelas Cika dia merapatkan handuk yang diberikan Mariah. Kebetulan di mobilnya punya beberapa barang karena dia sering lembur di kantor.
Obrolan mereka terus mengalir. Mariah langsung menyukai gadis delapan belas tahun itu.
“Bang gimana kalau Cika yang kemarin kita jadikan tukang cuci di rumah.Sekalian bisa tinggal di sini!” seru Mariah pada suaminya.
“Boleh. Kalau kamu menyukainya!” sahut suaminya.
“Baik, aku akan sangat senang kalau di rumah punya teman!” Mariah pun nekat mempekerjakan Cika sebagai tukang cuci di rumahnya. Cika dapat bonus besar. Karena tugasnya hanya mencuci, menyetrika dan membersihkan rumah. Dia dapat tempat tempat tinggal free dan makan free. Gajinya cukup untuk biaya kuliah.
Berawal dari tukang cuci, Cika dididik dengan baik oleh Mariah. Setelah dua tahun ditempa secara ilmu dan managemen diri. Ahirnya di angkat langsung menjadi Asisten Pribadi Mariah di Penerbit Bintang Belia. Sejak smester enam Cika sudah memiliki gaji di atas rata-rata sebagai seorang mahaiswa.
Telepon pintar berdering, sebuah pesan dari teman lamanya. Angga.
”CIKA, AKU MAU NGOMONG SESUATU ADA WAKTU?”
Cika menggeleng-geleng kepala melihat pesan Angga. Dia heran sama Angga. Apa anak ini tidak tahu cara menggantikan huruf kecil di HP-nya? Sehingga menulis semuanya dengan huruf kapital.
“Seperti poster orang hilang saja. Padahal Angga seorang pengusaha muda, seorang terpelajar bahkan juga seorang penulis,” omel Cika. “ Konyol sekali laki-laki yang didambakan banyak perempuan itu!” Cika tertawa sendiri.
Cika, seorang perantau yang tidak punya siapa-siapa. Sehingga membangun hubungan yang baik dengan keluarga Mariah. Termasuk dengan Angga. Angga pun sebaliknya. Dia sangat senang berkawan dengan Cika. Perempuan yang tidak neko-neko, sederhana, pekerja keras dan sangat keibuan. Sayang sekali, hati Angga telah dipangkas habis oleh Nona Aceh. Hingga dia tidak bisa jatuh cinta kepada wanita lain.
Cika paham betul, bagaimana perasaan Angga terhadap Nona Aceh itu. Meskipun Angga terpaksa menikah dengan Lira. Cika selalu ada, sebagai pundak yang dijadikan sandaran Angga. Pendengar terbaik disaat dia bercerita. Penasihat ulung disaat Angga kehilangan arah. Angga juga sebaliknya. Dia terus berusaha menjadi teman yang baik bahkan saudara yang baik untuk Cika. Tentang Nona Aceh, berkali-kali Cika memberi saran agar Angga menghubunginya langsung. Tapi ,Angga merasa belum siap. Biarlah dia menjadi penggemar rahasia.
“Kamu lagi ngirim SMS atau buat poster sih?”
Cika membalas sms Angga sambil tersenyum geli. Membayangkan Angga tergelak di unjung sana. Tak henti bersyukur kehadiran Angga. Laki-laki itu bisa melenyapkan sepinya karena hidup seorang diri di jantung Ibukota ini. Angga sama seperti Mariah, tantenya. Sama-sama care dan memiliki rasa sosial yang tinggi.
Angga tersenyum melihat balasan pesan temannya saat menunggu transit di kuala namu untuk pulang ke Bandung.
“Cika, aku sudah ketemu langsung sama Nona Aceh itu! Langsung ke rumahnya!” balas Angga lagi.
“Rumah suaminya maksudmu?” tanya Cika.
“Bukan. Tapi rumah orang tuanya!” tulis Angga.
“Kok bisa? Apa tujuanmu? Dia istri orang Lho Ngga!” balas Cika lagi.
“Dia sudah cerai!” balas Angga.
Bola mata Cika membola. Sekian lama nggak dapat kabar Nadia Mahra. Sekali dapat kabar langsung dari Angga. Dan cerai.
“Kamu serius Ngga?” balas Cika tak percaya.
“Ngapain bohong? Serius! Aku akan menikahinya nanti!” balas Angga membuat bola mata Cika membola sempurna.
“Ngga aku dukung!” balas Cika lagi. “Kamu juga harus buat dia nulis lagi!”
“Dia sudah nggak nulis?” tanya Angga.
“Semenjak menikah dia vakum total. Aku juga susah hubungin dia! Suaminya itu posesif sekali. Masak nulis aja nggak boleh!” Cika seakan sedang melihat pesona Refans yang bengis.
“Berdoalah agar aku diterima menjadi suaminya. One day!” tulis Angga lagi.
“One day? Jadi tadi kamu ke rumahnya udah diterima kan?” Cika penasaran.
“Eh belum. Aku tadi cuma main aja ke rumahnya!”tambah Angga.
Cika menghembus napas. “Aku kirain kalian udah di tahap lamaran!”
Angga tertawa melihat isi pesan sahabatnya itu “Doain ya Cik!”
Lampu kuning sudah menyala tapi dia tetap membalas pesan Angga terlebih dahulu, “Semoga urusanmu mudah Ngga!” Cika terperanjat karena bunyi klakson bertalu-talu dari belakangmya. Karena lampu lalu lintas sudah menghijau.
“Sial, ini semua gara-gara Angga,” umpat Cika.
Angga sedang transit di Bandara Kuala Namu. Dia masih menggulir ponselnya. Bayang-bayang Mahra masih berputar di kepalanya. Bagaimana dia berbicara, menatapnya. Dan pembawaannya.
“Kenapa sih dia sehemat itu kalau bicara?” gumam Angga. “Padahal bisakan diatanya-tanya ke aku tentang suaminya. Minta cerita kek, kenapa aku bisa mergokin suaminya selingkuh?” Angga menghembus napas kasar.
“Kenapa harus secepat itu dia memaafkan?” ucapnya lebih kentara.
“Kenapa Bos?” tanya Bodyguardnya.
“Apanya kenapa?” Angga melotot ke arah ajudannya. Dia langsung kikuk.