Bab 3 Malam Kelabu

Cindy tidak bergerak dan meringkuk di balik selimut yang membalut tubuhnya. Ia membelakangi Melvin yang duduk di ujung ranjang. Melvin masih cukup sadar dari mabuknya untuk melihat keadaan Cindy. “Cindy?” sebutnya pelan. “Pergi,” jawab Cindy dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Melvin menundukkan kepalanya lalu berdiri dan keluar lagi dari kamar. Dari pada harus menghadapi kesedihan Cindy, Melvin pun kembali keluar dari kamar. Sedangkan Cindy tidak sanggup bangun untuk menghadapi kenyataan yang terjadi. Ia merasa kotor dan sangat tidak berharga. Air mata Cindy terus menetes dan akhirnya ia hanya terisak. “Mengapa ini terjadi padaku?” isak Cindy pelan memeluk bantal serta terus menangis. Sementara Melvin pergi menghabiskan waktu di kamar lain. Ia tahu apa yang terjadi pada Cindy dan yang bisa ia lakukan adalah berpura-pura tidak tahu. Keesokan harinya, Melvin kembali ke kamar Cindy untuk menemui istrinya. Di depan pintu, ia sempat berdiri untuk berpikir. Setelah beberapa saat, Melvin mengurungkan niatnya. Ia pergi dari depan kamar. Di dalam kamar, Cindy sudah membersihkan diri sedari subuh. Ia bahkan tidak bisa tidur semalaman sekalipun tubuhnya perih dan sakit. Saat Cindy menatap dirinya di depan cermin, Cindy kembali menangis. Terdapat bekas membiru akibat perbuatan pria yang tidak dikenal oleh Cindy. Tak lama pintu kamar diketuk. Cindy buru-buru menyeka air matanya. Ia berbalik lalu berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Kening Cindy mengernyit kemudian. “Selamat pagi, Nyonya. Kami mengantarkan pesanan sarapan untuk Nyonya,” ujar pelayan berseragam restoran hotel dengan senyuman ramah. Di belakangnya, ada sebuah kereta dorong berisi makanan. Cindy tidak menanggapi apa-apa, ia mundur memberikan jalan pada pelayan tersebut mengatur hidangan di meja makan di dalam. Cindy tersenyum pelan setelah pelayan itu selesai menghidangkan sarapan pagi. Di atas meja terdapat setangkai bunga mawar merah dengan secarik kartu. Pelayan itu pun keluar setelah membungkuk memberikan salam. Cindy kemudian mendekat dan duduk di salah satu kursi, ia mengambil bunga mawar dan kartu tersebut. Di dalamnya terdapat tulisan tangan milik suaminya─Melvin. “Selamat menikmati sarapan kamu, Sayang. Suamimu, Melvin.” Tanpa meminta maaf, Melvin hanya mengirimkan sarapan dengan setangkai bunga seolah tidak ada yang terjadi semalam. Kedua bahu Cindy turun karena kecewa serta tangannya jatuh begitu saja di atas pangkuan masih memegang kartu tersebut. Cindy meletakkan kartu itu lalu memulai makan. Meski ia tidak berselera tapi entah mengapa, Cindy mau memakannya. Saat sedang menyuapi makanan dengan pelan tanpa selera, Melvin masuk. Cindy masih meneruskan makan sampai Melvin memeluknya dari belakang. “Maafkan aku,” ucap Melvin pelan memeluk Cindy lalu mengecup sisi keningnya. Cindy menghentikan makan tapi ia diam saja. Melvin lalu pindah ke sisi kanan dan duduk di samping Cindy. Kedua tangannya memegang sebelah tangan Cindy sambil menatapnya. Sedangkan Cindy tidak mau sama sekali menatap suaminya. Ia hanya memandang kosong ke depan. “Soal semalam, kita lupakan saja ya. Aku gak mau kamu tertekan.” Cindy dengan cepat berbalik menoleh pada Melvin dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak percaya jika suaminya bisa bicara seperti itu. “Apa yang sebenarnya kamu lakukan?” tanya Cindy dengan suara bergetar. Melvin sedikit tertunduk malu bahkan sempat membuang pandangannya ke samping. “Aku ... aku punya utang, tapi aku akan membayarnya.” Melvin menjawab dengan sikap salah tingkah. “Bagaimana kamu bisa menjual aku sebagai ganti dari utangmu? Kamu seharusnya jadi suami dan pelindungku, Mas!” Cindy kembali terisak sampai menutup mulut dengan sebelah tangannya. Melvin menunduk semakin menggenggam tangan Cindy yang sudah membuang muka. “Maafkan aku. Aku janji kejadian semalam hanya sekali saja. Itu gak akan terjadi lagi, aku janji. Kita lupakan saja, anggap saja itu tidak pernah terjadi. Oke?” Melvin membujuk Cindy agar melupakan kejadian mengerikan semalam. Cindy makin menangis tapi ia tidak sanggup melawan. Saat Melvin menariknya ke dalam pelukan, Cindy pun menangis saja membiarkan. Setelah Cindy tenang dan tidak lagi menangis, Melvin mengajak istrinya untuk check out dari hotel. Sebelum keluar kamar, ia kembali meminta Cindy agar tidak bercerita pada siapa pun termasuk pada keluarga. “Jangan kasih tahu siapa pun apa yang sudah terjadi. Aku gak mau kakak kamu atau saudara kamu menyalahkan aku dan mungkin melaporkan aku ke polisi. Kamu gak mau aku dipenjara, kan?” tanya Melvin mengungkit rasa cinta Cindy untuknya. Cindy menelan ludahnya menatap Melvin. Pernikahannya dan Melvin bisa hancur jika dirinya menceritakan yang terjadi. Mungkin benar jika ia harus berpura-pura jika hal semalam tidak pernah terjadi. Cindy pun mengangguk tanpa menjawab. Melvin tersenyum melihat sifat penurut Cindy. Ia merangkul istrinya keluar dari kamar menuju lift yang membawa mereka ke bawah. Koper mereka sudah dibawa oleh seorang bellboy yang membantu. Satu minggu setelah kejadian itu, kehidupan Cindy dimulai seperti sedia kala. Ia menjadi ibu rumah tangga melayani suami yang hampir bangkrut. Melvin adalah seorang CEO dari perusahaan makanan serta minuman terkenal dulunya. Kini dengan banyaknya persaingan dan manajemen yang buruk, membuat perusahaan warisan keluarga itu diambang kebangkrutan. “Sialan. Minus terus, ahk!” umpat Melvin melempar kertas-kertas berisi laporan cashflow perusahaan. Lemparan kertas itu mendarat di depan kaki Cindy yang masuk ke ruang kerja suaminya untuk mengantarkan kopi. Cindy sempat memandangi kertas tersebut lalu berjalan mendekat pada Melvin meletakkan kopinya. Ia memunguti kertas-kertas tersebut lalu membacanya. “Mas, ini ....” “Kalau seperti ini terus aku bisa bangkrut!” seru Melvin mulai marah. Ia membentak Cindy tanpa alasan. “Diminum dulu, Mas,” jawab Cindy menyodorkan cangkir kopi untuk Melvin agar dia lebih tenang. Melvin malah menungkupkan kepala dengan kedua tangannya meremas rambut. Cindy meletakkan kembali kertas-kertas yang dilemparkan oleh Melvin di atas meja. Cindy mulai cemas jika Melvin akan marah-marah lagi seperti beberapa hari ini. Melvin malah menepis kembali kertas-kertas tersebut sampai berserakan di lantai. “Ah, jangan taruh kertas itu lagi di mejaku. Aku gak mau liat!” bentak Melvin pada Cindy. Cindy menghela napas panjang lalu melirik pada kertas laporan tersebut. “Apa kamu gak ingin cari kerja? Kamu gak bosan nganggur terus!” Melvin kini mengalihkan rasa kesalnya pada Cindy. Cindy menggelengkan kepalanya pelan. “Aku kan bisa mengurus rumah, Mas.” “Ah, kamu harus pintar dong mencari uang. Kamu gak bisa terus-terusan bergantung sama aku untuk kebutuhan hidup. Banyak wanita di luar sana yang bisa mencari uang sendiri dan menjadi wanita karier,” protes Melvin lagi. Cindy hanya mengulum bibirnya dengan pandangan sedikit menunduk. “Kamu ini gimana sih? Istri pengusaha, lulusan Amerika tapi nganggur jadi Ibu rumah tangga. Kalau kamu punya penghasilan, kamu kan bisa bantu-bantu aku sedikit. Setidaknya aku gak perlu mencari untuk biaya rumah dan lain-lain sehingga uangnya bisa buat modal perusahaan. Nanti kalau semuanya normal, terserah kalau kamu masih mau kerja,” ujar Melvin seenaknya. Cindy sampai terperangah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Melvin. “Besok kamu lamar di perusahaan deh. Dalam seminggu ini harus dapat! Aku mau keluar, gak usah nungguin aku!” Melvin berdiri dan langsung pergi meninggalkan Cindy yang tidak bisa bicara apa-apa.
Pengaturan
Latar belakang
Ukuran huruf
-18
Buka otomatis bab selanjutnya
Isi
Bab 1 Penebus Utang Bab 2 Ternoda Bab 3 Malam Kelabu Bab 4 Pekerjaan Baru Bab 5 Dari Masa Lalu Bab 6 Bos Gila Bab 7 Suami Tak Bertanggung Jawab Bab 8 Perjanjian Sehidup Semati appBab 9 Pertahanan Yang Robek appBab 10 Luka Hati Terdalam appBab 11 Tak Ada Alasan appBab 12 Dalam Cengkeraman Iblis appBab 13 Tak Bisa Berbohong appBab 14 Pembalasan appBab 15 Berusaha Pergi appBab 16 Merasa Lepas Dari Cengkeraman appBab 17 Bukan Bantuan Yang Datang appBab 18 Karma Yang Dibeli appBab 19 Tak Selamanya Bersembunyi appBab 20 Bukan Menantu Pilihan appBab 21 Tak Boleh Hilang appBab 22 Tumbal Cinta appBab 23 Nyaris appBab 24 Masuk Perangkap Lagi appBab 25 Penolong? appBab 26 Kerangkeng Duka appBab 27 Kambing Hitam appBab 28 Mengancam Demi Ego appBab 29 Memupuk Kebencian appBab 30 Tanpa Harapan appBab 31 Mata Yang Terhalang appBab 32 Kecurigaan Beralasan appBab 33 Gengsi Dan Kemarahan appBab 34 Bos Yang Aneh appBab 35 Keberadaan Cindy appBab 36 Monster Yang Sesungguhnya appBab 37 Cookies Dan Kopi appBab 38 Harga Diri appBab 39 Menolak Menjadi Simpanan appBab 40 Bantuan Dadakan appBab 41 Terpaksa Patuh appBab 42 Membaca Pikiran appBab 43 Menu Makan Malam appBab 44 (Tak) Terduga appBab 45 Kamar Baru appBab 46 Milikku Yang Kembali appBab 47 Tembok Rahasia appBab 48 Pesan Manis appBab 49 Burung Dalam Sangkar appBab 50 Negosiasi appBab 51 Posesif appBab 52 Terjepit appBab 53 Bukan Rumahku appBab 54 Aku Tak Boleh Kalah appBab 55 Masih Dalam Hukuman appBab 56 Manja Tapi Gengsi appBab 57 Janji Di Atas Keraguan appBab 58 Gerbang Neraka appBab 59 Muslihat Jahat Mertua appBab 60 Siksaan appBab 61 Hati Yang Terluka appBab 62 Tak Mau Mencari Perlindungan appBab 63 Langkah Di Luar Rencana appBab 64 Sentuhan Nakal appBab 65 Rencana Pembalasan appBab 66 Gairah Terindah appBab 67 Memanfaatkan Cinta appBab 68 Hanya Kedok appBab 69 Yang Tak Bisa Dimiliki appBab 70 Obat Tidur appBab 71 Surat Kaleng appBab 72 Masih Adakah Pilihan? appBab 73 Bisakah Kita Bersama? appBab 74 Kencan Di Akhir Pekan appBab 75 Mata-Mata appBab 76 Tak Sama Rencana Semula appBab 77 Menutup Dengan Tirai appBab 78 Telinga-Telinga Yang Penasaran appBab 79 Es Krim Cinta appBab 80 Cinta Yang Nyata appBab 81 Inilah Aku appBab 82 Mencari Kebenaran appBab 83 Gara-Gara Es Krim appBab 84 Bos Yang Pingsan appBab 85 Kasih Sayang appBab 86 Belaian Kesembuhan appBab 87 Lolos appBab 88 Segurat Kenangan Masa Lalu appBab 89 Berlututlah Padaku appBab 90 Tamu Tak Disangka appBab 91 Dua Pria Satu Hati appBab 92 Cinta Berubah Haluan appBab 93 Kesetiaan Teruji appBab 94 Bermuka Dua appBab 95 Meraih Simpati Kembali appBab 96 Tangan Pengacara Dingin appBab 97 Di Bawah Utang appBab 98 Membalikkan Permainan appBab 99 Permintaan Menyakitkan appBab 100 Istri Tulang Punggung appBab 101 Negosiasi Ulang appBab 102 Menelan Ludah appBab 103 Tawaran Menggiurkan appBab 104 Ancaman Sang Pengacara appBab 105 Penjahat Yang Bersembunyi appBab 106 Bimbang appBab 107 Adikku Yang Berharga appBab 108 Kelinci Yang Tersesat appBab 109 Menghimpit Naluri appBab 110 Terdesak appBab 111 Jangan Malu Padaku appBab 112 Bukan Jebakan Cinta appBab 113 Tak Akan Melepasmu appBab 114 Kesepakatan Cinta appBab 115 Racun Cinta appBab 116 Dibalik Rencana Bulan Madu appBab 117 Rencana Di Masa Lalu appBab 118 Ingatan Yang Tertinggal appBab 119 Rasa Bersalah Di Masa Lalu appBab 120 Uang Dan Cinta appBab 121 Persiapan Perjalanan appBab 122 Tak Berhenti Berbohong appBab 123 Salah Spekulasi appBab 124 Prasangka appBab 125 Trauma Rasa Bersalah appBab 126 Yang Tertinggal appBab 127 Ciuman Di Atas Awan appBab 128 Diburu Sang Kakak appBab 129 Salah Sangka appBab 130 Perjalanan Yang Melelahkan appBab 131 Nyaris Hilang Kendali appBab 132 Hukuman Misterius appBab 133 Melayang Di Awan appBab 134 Istri Dan Simpanan appBab 135 Jalan Gelap Ingatan Yang Hilang appBab 136 Alasan Mencintai appBab 137 Firasat Tak Baik appBab 138 Dua Sisi appBab 139 Melintasi Masa Lalu appBab 140 Dosa Yang Tertinggal appBab 141 Potongan Ingatan Yang Mengambang appBab 142 Bagian Yang Tak Kembali appBab 143 Mendadak Cemburu appBab 144 Jangan Lagi Sembunyi appBab 145 Dinding-Dinding Penghalang appBab 146 Makan Malam Tanpa Gairah appBab 147 Hasrat Terpendam appBab 148 Adikku Malang, Adikku Sayang appBab 149 Kembalikan Milikku appBab 150 Obsesi Cinta Sebastian appBab 151 Miliki Aku appBab 152 Kegelapan Yang Kembali appBab 153 Rencana Menikah appBab 154 Cinta Gila, Cinta Buta appBab 155 Kabur appBab 156 Janji Yang Harus Ditepati appBab 157 Istri Penganggu appBab 158 Menculik Cindy appBab 159 Keegoisan Cinta appBab 160 Siapa Monster Sesungguhnya? appBab 161 Jalan Yang Membawaku Padamu appBab 162 Tak Beranjak appBab 163 Mimpi Hanyalah Mimpi appBab 164 Kebenaran Yang Menyakitkan appBab 165 Penyesalan Tak Usai appBab 166 Tak Rela Kehilangan appBab 167 Cintaku Mungkin Salah appBab 168 Dalam Kungkungan Obsesi Gila appBab 169 Cinta Beracun appBab 170 Pilihan Sulit Terjepit appBab 171 Buah Dari Kesetiaan appBab 172 Tamu (Tak) Diundang appBab 173 Mencari Musuh appBab 174 Dosa-Dosa Masa Lalu appBab 175 Catatan Pernikahan appBab 176 Validasi Kebohongan appBab 177 Kau Buatku Hilang Arah appBab 178 Rasa Bersalah appBab 179 Dari Hati Yang Terluka appBab 180 Dalam Cinta Buta appBab 181 Yang Sesungguhnya appBab 182 Permohonan appBab 183 Pencarian Cinta Tak Berujung appBab 184 Di Antara Frustrasi Dan Cinta appBab 185 Kembali Padamu appBab 186 Rindu Yang Terbayarkan appBab 187 Ternyata Hanya Kamu appBab 188 Salju Yang Mencair appBab 189 Jatuh Ke Pelukanmu Lagi appBab 190 Aku Tak Mau Berpisah appBab 191 Mata Terbuka appBab 192 Jangan Tinggalkan Aku appBab 193 Menyingkap Topeng appBab 194 Hidup Yang Terus Berjalan appBab 195 Mengejar Yang (Tak) Terkejar appBab 196 Bukan Cinta Tapi Hukuman appBab 197 Bukan Cinta Tapi Hukuman appBab 198 Pulang appBab 199 Akhir appBab 200 Kehilangan Arah app
Tambahkan ke Perpustakaan
Joyread
FINLINKER TECHNOLOGY LIMITED
69 ABERDEEN AVENUE CAMBRIDGE ENGLAND CB2 8DL
Hak cipta@ Joyread. Seluruh Hak Cipta